Dahulu kala, di dekat Sungai Besar, hidup seorang pandai besi beserta adik perempuannya yang cantik. Mereka tinggal di sebuah dusun kecil.
Pandai besi itu menyayangi adiknya. Mereka yatim piatu, keduanya mempunyai sifat ramah dan baik hati. Keduanya berjanji untuk selalu tinggal bersama dan tidak akan menikah. Pandai besi itu adalah seorang yang berbadan sangat kuat. Ia bisa memasang ladam kuda sambil mengangkat kudanya sekalian. Suaranya yang keras itu bisa terdengar sampai di mana-mana.
Raja negeri itu yang telah lanjut usianya turun tahta. Beliau digantikan putranya yang masih muda belia.
Raja muda ini memerintahkan keempat puluh gubernur propinsinya untuk mencari wanita paling cantik di masing-masing propinsinya.
Nanti, Raja akan memilih salah seorang yang tercantik dari keempat puluh wanita cantik itu.
Semua wanita yang belum bersuami berkumpul di lapangan kecuali adik pandai besi itu. Ia memang tak berniat untuk menikah atau meninggalkan kakaknya.
Gubernur merasa jemu. Ia berkeliling mencari wanita yang kiranya menarik hatinya. Tapi semuanya bergaya dibuat-buat. Akhirnya gubernur tiba di rumah pandai besi.
Ia marah karena adik pandai besi itu tak mau menampakkan dirinya. Gubernur sangat kaget melihat kecantikan wanita itu. Ia pun melompat dari kudanya dan membungkuk di hadapan gadis itu, memberi hormat.
“Maafkan atas kemarahanku, Tuan Putri,” kata gubernur.
“Kami telah berburu nafsu. Tuan Putri ternyata patut menjadi permaisuri Raja.”
Mendengar permintaan ini, adik pandai besi itu sangat bingung. Ia telah berjanji dengan kakaknya bahwa mereka akan tetap hidup serumah.
Meskipun gubernur menjanjikan kemewahan sebagaimana layaknya seorang permaisuri, namun wanita itu tak tergoyahkan. Malam harinya gubernur menjemput istrinya.
Dengan bujukan istri gubernur akhirnya wanita itu menyetujuinya. Tak seorang pun tahu apa yang telah mereka perbincangkan malam itu. Maka bergembiralah semua orang di dusun itu.
Pandai besi itu menolak ikut serta. Ia mencabut sebatang pohon mawar, lalu diberikannya kepada adiknya. “Jika setiap tahun kau mengirimkan bunga mawar pertama yang berkembang pada tanaman ini, aku sudah merasa puas,” kata pandai besi itu.
Dengan sebuah perahu layar yang megah, disertai iring-iringan yang besar, adik pandai besi itu berangkat menuju ke istana. Dengan rasa berat, pandai besi melepas adiknya yang disayanginya.
Pandai besi itu semakin kuat memukulkan besi di landasan, untuk memukul hancur kesedihan hatinya. Benarlah, adik pandai besi itu dipersunting sebagai permaisuri.
Segala kehendaknya pasti diturut. Permaisuri memang berusaha untuk memakmurkan negerinya dan memberikan ketenteraman bagi rakyatnya. Raja sangat mempercayainya.
Fitnah yang bagaimanapun kejinya terhadap Permaisuri tak digubrisnya, bahkan komplotan-komplotan penjahat banyak yang digulung.
Suatu hari Raja menanyakan tentang kehebatan kakaknya. Permaisuri merasa senang dapat menceritakan kenangannya selama masih berkumpul dengan kakaknya.
Diceritakannya, bagaimana mereka berdua bermain bersama. Ia benar-benar menyayangi kakaknya.
Raja kurang senang mendengar cerita ini. Namun ia tetap bersikap ramah, dan mengajurkan Permaisuri untuk menyuratinya supaya datang ke Kota Emas. Raja ingin bertemu dengannya.
Permaisuri curiga. Ia merasa ada orang-orang yang iri dengannya. Ini tentu tipu daya mereka, yang menjelekkan kakaknya di hadapan Raja.
Permaisuri ragu-ragu untuk menulis surat kepadanya. Jangan-jangan Raja akan menjatuhkan hukuman berat kepada kakaknya.
Namun perintah Raja tak bisa dibantah. Permaisuri segera menulis surat. Tak lama kemudian pandai besi itu tiba di Kota Emams. Ternyata dugaan Permaisuri benar. Pandai besi itu langsung dihadapkan ke depan pengadilan.
Keputusan Hakim adalah hukuman mati. Sia-sia Permaisuri meminta ampun kepada Raja. Hukuman akan dilangsungkan keesokan harinya.
Pandai besi itu akan dibakar hidup-hidup. Tetapi Permaisuri masih bisa menahan kemelut hatinya. Diadakan pesta makan yang mewah, dan beliau sendiri memakai pakaian kebesaran yang mewah dengan wewangian yang paling harum.
Raja diliputi rasa kebimbangan. Permaisuri berkata untuk menghibur Raja. “Paduka telah bertindak bijaksana. Memang kakak saya telah mengadakan komplotan untuk menggulingkan tahta. Karena tindakannya yang tak dikenal terima kasih itu, sepantasnya kakak saya mendapat hukuman yang setimpal. Dia tak pantas lagi disebut saudara saya.”
Raja tenang kembali. Permaisuri bersama inang pengasuhnya ingin melihat pelaksanaan hukuman mati itu. Raja pun setuju. Pagi-pagi benar lapangan telah penuh sesak dengan rakyat yang ingin melihat seorang pengkhianat dihukum mati.Di tengah lapangan disusun kayu bakar serta tumpukan jerami kering. Pandai besi itu diikat pada sebuah tiang di tengah lapangan.
Jerami itu kemudian dibakar. Api makin lama semakin besar, membayar kayu bakar yang besar. Asap hitam mengepul. Tiba-tiba, tanpa seorang pun sempat mencegahnya, Permaisuri melompat masuk ke dalam kobaran api yang sedang menjilat itu.
Dirangkulnya leher kakaknya. Ia rela mati bersama kakak yang dicintainya. Para pengawal kebingungan. Mereka berusaha memadamkan api, tapi sia-sia. Api telah terlanjur membesar.
Kedua kakak beradik itu tewas terbakar. Namun orang tidak dapat menemukan abu jenasah mereka di antara sisa-sisa api yang telah padam.
Beberapa hari kemudian terjadi beberapa peristiwa yang ganjil. Pada sebatang pohon kenari besar, di mana orang-orang suka berteduh menanti perahu, terlihat dua hantu memperlihatkan diri.
Yang satu berwujud laki-laki dan yang satu seorang wanita. Mereka berpegangan tangan dikelilingi cahaya merah seperti api. Tangan lelaki itu seakan menunjuk ke Kota Emas, dan terkadang seperti memukulkan martil.
Terkadang terdengar suara api memakan ranting-ranting kecil. Raja tak tenteram. Pohon itu kemudian disuruhnya tebang. Tujuh hari tujuh malam barulah pekerjaan itu selesai. Lalu batang pohon itu dihanyutkan ke hilir.
Raja tak bisa tenang. Suatu hari beliau melakukan perjalanan jauh dan tak pernah kembali. Begitulah kisah akhirnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar