Powered By Blogger

Minggu, 27 Maret 2011

Pandai Besi Dan Permaisuri


Dahulu kala, di dekat Sungai Besar, hidup seorang pandai besi beserta adik perempuannya yang cantik. Mereka tinggal di sebuah dusun kecil.
Pandai besi itu menyayangi adiknya. Mereka yatim piatu, keduanya mempunyai sifat ramah dan baik hati. Keduanya berjanji untuk selalu tinggal bersama dan tidak akan menikah.   Pandai besi itu adalah seorang yang berbadan sangat kuat. Ia bisa memasang ladam kuda sambil mengangkat kudanya sekalian. Suaranya yang keras itu bisa terdengar sampai di mana-mana.   
Raja negeri itu yang telah lanjut usianya turun tahta. Beliau digantikan putranya yang masih muda belia.
Raja muda ini memerintahkan keempat puluh gubernur propinsinya untuk mencari wanita paling cantik di masing-masing propinsinya.
Nanti, Raja akan memilih salah seorang yang tercantik dari keempat puluh wanita cantik itu. 
Semua wanita yang belum bersuami berkumpul di lapangan kecuali adik pandai besi itu. Ia memang tak berniat untuk menikah atau meninggalkan kakaknya.   
Gubernur merasa jemu. Ia berkeliling mencari wanita yang kiranya menarik hatinya. Tapi semuanya bergaya dibuat-buat. Akhirnya gubernur tiba di rumah pandai besi.
Ia marah karena adik pandai besi itu tak mau menampakkan dirinya. Gubernur sangat kaget melihat kecantikan wanita itu. Ia pun melompat dari kudanya dan membungkuk di hadapan gadis itu, memberi hormat.   
“Maafkan atas kemarahanku, Tuan Putri,” kata gubernur.
“Kami telah berburu nafsu. Tuan Putri ternyata patut menjadi permaisuri Raja.”   
Ilustrasi: Walcom.net
Mendengar permintaan ini, adik pandai besi itu sangat bingung. Ia telah berjanji dengan kakaknya bahwa mereka akan tetap hidup serumah.
Meskipun gubernur menjanjikan kemewahan sebagaimana layaknya seorang permaisuri, namun wanita itu tak tergoyahkan. Malam harinya gubernur menjemput istrinya.
Dengan bujukan istri gubernur akhirnya wanita itu menyetujuinya. Tak seorang pun tahu apa yang telah mereka perbincangkan malam itu. Maka bergembiralah semua orang di dusun itu.   
Pandai besi itu menolak ikut serta. Ia mencabut sebatang pohon mawar, lalu diberikannya kepada adiknya. “Jika setiap tahun kau mengirimkan bunga mawar pertama yang berkembang pada tanaman ini, aku sudah merasa puas,” kata pandai besi itu.
Dengan sebuah perahu layar yang megah, disertai iring-iringan yang besar, adik pandai besi itu berangkat menuju ke istana. Dengan rasa berat, pandai besi melepas adiknya yang disayanginya.
Pandai besi itu semakin kuat memukulkan besi di landasan, untuk memukul hancur kesedihan hatinya. Benarlah, adik pandai besi itu dipersunting sebagai permaisuri.
Segala kehendaknya pasti diturut. Permaisuri memang berusaha untuk memakmurkan negerinya dan memberikan ketenteraman bagi rakyatnya. Raja sangat mempercayainya.
Fitnah yang bagaimanapun kejinya terhadap Permaisuri tak digubrisnya, bahkan komplotan-komplotan penjahat banyak yang digulung.   
Suatu hari Raja menanyakan tentang kehebatan kakaknya. Permaisuri merasa senang dapat menceritakan kenangannya selama masih berkumpul dengan kakaknya.
Diceritakannya, bagaimana mereka berdua bermain bersama. Ia benar-benar menyayangi kakaknya.   
Raja kurang senang mendengar cerita ini. Namun ia tetap bersikap ramah, dan mengajurkan Permaisuri untuk menyuratinya supaya datang ke Kota Emas. Raja ingin bertemu dengannya.   
Permaisuri curiga. Ia merasa ada orang-orang yang iri dengannya. Ini tentu tipu daya mereka, yang menjelekkan kakaknya di hadapan Raja.
Permaisuri ragu-ragu untuk menulis surat kepadanya. Jangan-jangan Raja akan menjatuhkan hukuman berat kepada kakaknya.   
Namun perintah Raja tak bisa dibantah. Permaisuri segera menulis surat. Tak lama kemudian pandai besi itu tiba di Kota Emams. Ternyata dugaan Permaisuri benar. Pandai besi itu langsung dihadapkan ke depan pengadilan.
Keputusan Hakim adalah hukuman mati. Sia-sia Permaisuri meminta ampun kepada Raja. Hukuman akan dilangsungkan keesokan harinya.
Pandai besi itu akan dibakar hidup-hidup. Tetapi Permaisuri masih bisa menahan kemelut hatinya. Diadakan pesta makan yang mewah, dan beliau sendiri memakai pakaian kebesaran yang mewah dengan wewangian yang paling harum.   
Raja diliputi rasa kebimbangan. Permaisuri berkata untuk menghibur Raja. “Paduka telah bertindak bijaksana. Memang kakak saya telah mengadakan komplotan untuk menggulingkan tahta. Karena tindakannya yang tak dikenal terima kasih itu, sepantasnya kakak saya mendapat hukuman yang setimpal. Dia tak pantas lagi disebut saudara saya.”   
Raja tenang kembali. Permaisuri bersama inang pengasuhnya ingin melihat pelaksanaan hukuman mati itu. Raja pun setuju.  Pagi-pagi benar lapangan telah penuh sesak dengan rakyat yang ingin melihat seorang pengkhianat dihukum mati.Di tengah lapangan disusun kayu bakar serta tumpukan jerami kering. Pandai besi itu diikat pada sebuah tiang di tengah lapangan.
Jerami itu kemudian dibakar. Api makin lama semakin besar, membayar kayu bakar yang besar. Asap hitam mengepul. Tiba-tiba, tanpa seorang pun sempat mencegahnya, Permaisuri melompat masuk ke dalam kobaran api yang sedang menjilat itu.
Dirangkulnya leher kakaknya. Ia rela mati bersama kakak yang dicintainya. Para pengawal kebingungan. Mereka berusaha memadamkan api, tapi sia-sia. Api telah terlanjur membesar.
Kedua kakak beradik itu tewas terbakar. Namun orang tidak dapat menemukan abu jenasah mereka di antara sisa-sisa api yang telah padam.   
Beberapa hari kemudian terjadi beberapa peristiwa yang ganjil. Pada sebatang pohon kenari besar, di mana orang-orang suka berteduh menanti perahu, terlihat dua hantu memperlihatkan diri.
Yang satu berwujud laki-laki dan yang satu seorang wanita. Mereka berpegangan tangan dikelilingi cahaya merah seperti api. Tangan lelaki itu seakan menunjuk ke Kota Emas, dan terkadang seperti memukulkan martil.
Terkadang terdengar suara api memakan ranting-ranting kecil. Raja tak tenteram. Pohon itu kemudian disuruhnya tebang. Tujuh hari tujuh malam barulah pekerjaan itu selesai. Lalu batang pohon itu dihanyutkan ke hilir.
Raja tak bisa tenang. Suatu hari beliau melakukan perjalanan jauh dan tak pernah kembali. Begitulah kisah akhirnya.

Flori dan Flora


Di hutan, di tempat tinggal peri-peri cilik, malam ini akan diadakan pesta besar. Sebab hari ini adalah hari ulang tahun Ratu Peri Cilik!
Undangan sudah diedarkan seminggu sebelumnya kepada semua teman Ratu Peri Cilik. Makanan dan minuman yang lezat sudah disiapkan.
Beberapa tempat sudah dihias. Beberapa orang peri sedang latihan menari dan menyanyi sebagai persiapan terakhir untuk dipertunjukkan nanti malam.
Ilustrasi: pondgnome
Peri cilik-peri cilik yang tidak menari atau menyanyi tampak sibuk mengumpulkan ranting-ranting pohon untuk api unggun.
Malam itu kebetulan terang bulan. Peri-peri cilik bergantian memberi selamat kepada Ratu Peri Cilik. Mereka semua kelihatan sangat gembira.
“Hidup Ratu Peri! Hip, hip, horeee!”
“Terima kasih, terima kasih!” sahut Ratu Peri sambil menduduki kursi tahtanya. Beliau kelihatan cantik sekali malam itu.
“Marilah kita mulai pesta malam ini!” Maka Ratu pun mencicipi makanan dan minuman yang tersedia. “Ehmm, lezaaat sekali.” Setelah itu peri-peri cilik pun mulai menikmati makanan dan minuman yang tersedia.
Sementara itu Flori dan Flora, dua peri cilik yang nakal sedang bermain-main di dekat api unggun. “Flora, aku punya permainan baru,” kata Flori tiba-tiba.
“Permainan apa?” tanya Flora ingin tahu.
“Begini, kita ambil sebatang ranting yang digunakan untuk api unggun. Nah, kalau sebatang ranting saja kan mirip dengan obor? Lalu kita berjalan-jalan dengan obor itu ke tengah hutan.”
“Wah, tentu asyik ya!” sambut Flora. “Kalau begitu ayo cepat kita ambil!” Flora dan Flori masing-masing mengambil sebatang ranting bernyala yang agak pendek. Tetapi celaka! Karena ranting itu pendek, akhirnya tangan Flora dan Flori terbakar!
“Aduh, jariku terbakar!” jerit Flori, lalu ia membuang ranting yang bernyala itu. “Aduh, jariku juga terbakar!” jerit Flora. Lalu Flora pun membuang ranting yang bernyala itu. Namun apa akibatnya?
Rumput-rumput di sekitar tempat itu terbakar! Ya, beberapa hari ini memang tidak pernah turun hujan. Panas terik membuat rumput-rumput di hutan itu menjadi kering.
Karena itulah ketika terkena percikan api dari ranting yang bernyala, rumput-rumput kering itu langsung menyala. Makin lama nyala api makin besar.
Flora dan Flori segera meninggalkan tempat terjadi kebakaran itu lalu bersembunyi!
“Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran!” Peri-peri berteriak sambil berlari menghampiri Ratu Peri Cilik. Mereka tahu, bahwa ratu Peri Cilik pandai menyulap.
“Ratu, Ratu, di sana terjadi kebakaran!” seru peri-peri itu dengan panik. “Oh ya?” sahut Ratu, agak terkejut.
“Ya, Ratu. Dapatkah Ratu menolong memadamkannya?”
“Ya, tunggu sebentar,” jawab Ratu Peri Cilik. Ratu Peri Cilik bangkit dari kursi tahtanya. Kemudian Ratu menyanyikan sebuah lagu tentang hujan yang turun ke bumi. Mungkinkah lagu itu dapat menciptakan hujan?
Ilustrasi: deviantart
Sementara peri-peri  asyik mendengar sang Ratu menyanyi, turun titik-titik hujan. Rik, tik, tik.
“Hujan! Hujan! Hidup Ratu!” sorak para peri dengan gembira. Dalam sekejap saja hujan yang turun itu memadamkan rumput-rumput kering yang terbakar.
Flora dan Flori keluar dari  balik pohon. Sambil bergandengan tangan mereka menghadap Ratu Peri Cilik. “Ratu, maafkan kami,” kata Flora dan Flori.
“Kami yang bersalah, telah menyebabkan kebakaran itu.” Lalu Flora menceritakan bagaimana sampai terjadi kebakaran di tengah hutan itu.
Alangkah marahnya Ratu Peri Cilik kepada Flora dan Flori. Karena bermain api itu sangat berbahaya.
Sebagai hukuman atas kenakalan mereka, Ratu memerintahkan kedua peri cilik yang nakal itu menjemur semua pakaian peri yang baru selesai dicuci.
Flora dan Flori yang menyadari kesalahan mereka, melakukan tugas itu dengan hati lega.
Untung saja cuma diperintahkan menjemur pakaian. Coba kalau seluruh hutan terbakar? Ah, celakalah semua.

Hanya Kurang Teliti


Ririn kelihatan begitu sibuk di bangkunya, ia mengeluarkan isi tasnya, diletakkannya di atas meja, kemudian ia menengok ke dalam lacinya. “Ah tak ada,” gumamnya. Dan sekarang kelihatan matanya mulai basah, tapi tetap ia mencari-cari.
Lama-lama hal ini menarik perhatian Pak Guru yang sedang mengajar, beliau pun segera menghampiri.
Ilustrasi: kompasiana
“Ada kesulitan Rin, kau begitu gelisah?”
Ririn tak segera menjawab pertanyaan itu, hal ini segera menarik perhatian teman-temannya, hingga semua menatap ke arahnya. Ririn kian rikuh, ia kini terisak.
“Tenanglah Rin, ceritakan apa kesulitanmu, nanti bapak bantu.”
Ririn menghentikan kegiatannya, dia kini diam, cuma air matanya kian deras mengalir.
“Cobalah untuk tenang.” Dia menarik napas, dan kini kelihatan agak tenang, tapi belum juga menjawab.
“Nah sekarang kau bisa cerita,” kata Pak Guru lembut.
“Uang Ri… rin, hilang, Pak,” kata Ririn tersendat.
Pak Guru terkejut hingga beliau diam beberapa saat.
“Berapa jumlah uangmu yang hilang?”
“Uang untuk SPP saya bulan ini pak,” kata Ririn sudah agak lancar.
“Tadi di mana disimpannya?”
“Disini pak, di dalam buku, dan saya tinggal kala istirahat.
Pak guru mengangguk, beliau berpikir harus segera dibereskan kalau tidak akan membuat kelas ini jadi saling curiga dan akibatnya muncul keresahan.
Seketika pula kelas jadi gaduh dengan berbagai tanggapan, dan suasana tegang.
“Tadi sebelum istirahat masih ada?”
“Masih ada Pak, itu sudah saya periksa sebelum saya keluar bersama Pitri.”
“Baiklah sekarang semua berdiri, tadi yang istirahat boleh keluar dengan meninggalkan perlengkapan masing-masing, dan yang tadi tak istirahat tinggal di tempat.”
Segera anak-anak yang merasa tak tinggal cepat-cepat secara serabutan keluar kelas.
“He, Dalim? Kau kan tadi tak istirahat mengapa keluar?” kata Indri ketika Dalim akan keluar. Ada yang menyerobot.
Ilustrasi: 7days7bags
Dalim mendelik marah. “Apa pedulimu?”
Hampir terjadi ketegangan, jika Pak Guru tak segera tahu.
“Dalim kau tadi istirahat?”
“Tidak, Pak.”
“Mengapa kau ikut keluar?”
Dalim diam, dia hanya menunduk, dia tahu bersalah, apalagi ketika Pak Guru menatapnya tajam-tajam.
“Kembali ke tempatmu!” Dalim beranjak.
Kini suasana kelas sepi, yang tinggal hanya lima orang termasuk Rini. Mencekam sekali, semua pada pikiran masing-masing.
Pak guru mengawasi mereka satu persatu, apabila tatapan beliau bertemu dengan sepasang mata, maka mata itu akan menghindar jauh, perasaan pun jadi tegang.
“Bapak tak kan menuduh diantara kalian ini yang mengambil uang kepunyaan Rini, Bapak hanya akan bertanya, adakah diantara kalian ini yang tinggal dalam kelas mengetahui perbuatan seseorang yang ditujukan kepada Rini?” tanya Pak Guru memecah keheningan.
Tapi suasana kian mencekam karena semua diam. “Baiklah, diantara kalian rupanya tak ada yang mengetahui.”
Pak guru mondar-mandir. “Begini saja, coba kalian angkat tas-tas yang ada dalam laci dan letakkan di atas meja.”
Semua bergerak melaksanakan perintah Pak Guru dan beberapa saat saja semua buku dan tas telah tergeletak di atas meja.
Ilustrasi: flickr
“Sekarang kau Rin, periksa tas itu satu persatu dengan didampingi teman-temanmu, karena saya rasa uang itu masih disimpan.”
Rini bergerak untuk melaksanakan misinya, dimulai dari bangku terdepan dan paling ujung. Satu persatu tas dibuka, lembar demi lembar buku dibuka dengan disaksikan beberapa mata, temannya sendiri.
Belum pada bagian terakhir Rini mengerjakan dia berhenti pada tas milik Pitri, yang serupa dengan miliknya. Pak guru heran. “Ketemu Rin?”
“Belum Pak, tapi rasanya masih ada…” Rini berlari menuju ke tempat duduknya, dan dibukanya pada bagian sisi yang agak selip pada tasnya, dan uang tersebut ada di sana!
“Masih ada, Rin?”
“Ya pak, Rini lupa, tadi ketika akan istirahat Ririn pindahkan takut hilang, karena akan Ririn setor diakhir pelajaran nanti.”
Dan Pak Guru pun hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Semua murid lega. Tapi Ririn merasa bersalah, dia berjanji sebelum pulang akan minta maaf kepada Bapak Guru dan teman-temannya, atas kelalaiannya ini.