Powered By Blogger

Minggu, 27 Maret 2011

Hanya Kurang Teliti


Ririn kelihatan begitu sibuk di bangkunya, ia mengeluarkan isi tasnya, diletakkannya di atas meja, kemudian ia menengok ke dalam lacinya. “Ah tak ada,” gumamnya. Dan sekarang kelihatan matanya mulai basah, tapi tetap ia mencari-cari.
Lama-lama hal ini menarik perhatian Pak Guru yang sedang mengajar, beliau pun segera menghampiri.
Ilustrasi: kompasiana
“Ada kesulitan Rin, kau begitu gelisah?”
Ririn tak segera menjawab pertanyaan itu, hal ini segera menarik perhatian teman-temannya, hingga semua menatap ke arahnya. Ririn kian rikuh, ia kini terisak.
“Tenanglah Rin, ceritakan apa kesulitanmu, nanti bapak bantu.”
Ririn menghentikan kegiatannya, dia kini diam, cuma air matanya kian deras mengalir.
“Cobalah untuk tenang.” Dia menarik napas, dan kini kelihatan agak tenang, tapi belum juga menjawab.
“Nah sekarang kau bisa cerita,” kata Pak Guru lembut.
“Uang Ri… rin, hilang, Pak,” kata Ririn tersendat.
Pak Guru terkejut hingga beliau diam beberapa saat.
“Berapa jumlah uangmu yang hilang?”
“Uang untuk SPP saya bulan ini pak,” kata Ririn sudah agak lancar.
“Tadi di mana disimpannya?”
“Disini pak, di dalam buku, dan saya tinggal kala istirahat.
Pak guru mengangguk, beliau berpikir harus segera dibereskan kalau tidak akan membuat kelas ini jadi saling curiga dan akibatnya muncul keresahan.
Seketika pula kelas jadi gaduh dengan berbagai tanggapan, dan suasana tegang.
“Tadi sebelum istirahat masih ada?”
“Masih ada Pak, itu sudah saya periksa sebelum saya keluar bersama Pitri.”
“Baiklah sekarang semua berdiri, tadi yang istirahat boleh keluar dengan meninggalkan perlengkapan masing-masing, dan yang tadi tak istirahat tinggal di tempat.”
Segera anak-anak yang merasa tak tinggal cepat-cepat secara serabutan keluar kelas.
“He, Dalim? Kau kan tadi tak istirahat mengapa keluar?” kata Indri ketika Dalim akan keluar. Ada yang menyerobot.
Ilustrasi: 7days7bags
Dalim mendelik marah. “Apa pedulimu?”
Hampir terjadi ketegangan, jika Pak Guru tak segera tahu.
“Dalim kau tadi istirahat?”
“Tidak, Pak.”
“Mengapa kau ikut keluar?”
Dalim diam, dia hanya menunduk, dia tahu bersalah, apalagi ketika Pak Guru menatapnya tajam-tajam.
“Kembali ke tempatmu!” Dalim beranjak.
Kini suasana kelas sepi, yang tinggal hanya lima orang termasuk Rini. Mencekam sekali, semua pada pikiran masing-masing.
Pak guru mengawasi mereka satu persatu, apabila tatapan beliau bertemu dengan sepasang mata, maka mata itu akan menghindar jauh, perasaan pun jadi tegang.
“Bapak tak kan menuduh diantara kalian ini yang mengambil uang kepunyaan Rini, Bapak hanya akan bertanya, adakah diantara kalian ini yang tinggal dalam kelas mengetahui perbuatan seseorang yang ditujukan kepada Rini?” tanya Pak Guru memecah keheningan.
Tapi suasana kian mencekam karena semua diam. “Baiklah, diantara kalian rupanya tak ada yang mengetahui.”
Pak guru mondar-mandir. “Begini saja, coba kalian angkat tas-tas yang ada dalam laci dan letakkan di atas meja.”
Semua bergerak melaksanakan perintah Pak Guru dan beberapa saat saja semua buku dan tas telah tergeletak di atas meja.
Ilustrasi: flickr
“Sekarang kau Rin, periksa tas itu satu persatu dengan didampingi teman-temanmu, karena saya rasa uang itu masih disimpan.”
Rini bergerak untuk melaksanakan misinya, dimulai dari bangku terdepan dan paling ujung. Satu persatu tas dibuka, lembar demi lembar buku dibuka dengan disaksikan beberapa mata, temannya sendiri.
Belum pada bagian terakhir Rini mengerjakan dia berhenti pada tas milik Pitri, yang serupa dengan miliknya. Pak guru heran. “Ketemu Rin?”
“Belum Pak, tapi rasanya masih ada…” Rini berlari menuju ke tempat duduknya, dan dibukanya pada bagian sisi yang agak selip pada tasnya, dan uang tersebut ada di sana!
“Masih ada, Rin?”
“Ya pak, Rini lupa, tadi ketika akan istirahat Ririn pindahkan takut hilang, karena akan Ririn setor diakhir pelajaran nanti.”
Dan Pak Guru pun hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Semua murid lega. Tapi Ririn merasa bersalah, dia berjanji sebelum pulang akan minta maaf kepada Bapak Guru dan teman-temannya, atas kelalaiannya ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar