Powered By Blogger

Minggu, 27 Maret 2011

Flori dan Flora


Di hutan, di tempat tinggal peri-peri cilik, malam ini akan diadakan pesta besar. Sebab hari ini adalah hari ulang tahun Ratu Peri Cilik!
Undangan sudah diedarkan seminggu sebelumnya kepada semua teman Ratu Peri Cilik. Makanan dan minuman yang lezat sudah disiapkan.
Beberapa tempat sudah dihias. Beberapa orang peri sedang latihan menari dan menyanyi sebagai persiapan terakhir untuk dipertunjukkan nanti malam.
Ilustrasi: pondgnome
Peri cilik-peri cilik yang tidak menari atau menyanyi tampak sibuk mengumpulkan ranting-ranting pohon untuk api unggun.
Malam itu kebetulan terang bulan. Peri-peri cilik bergantian memberi selamat kepada Ratu Peri Cilik. Mereka semua kelihatan sangat gembira.
“Hidup Ratu Peri! Hip, hip, horeee!”
“Terima kasih, terima kasih!” sahut Ratu Peri sambil menduduki kursi tahtanya. Beliau kelihatan cantik sekali malam itu.
“Marilah kita mulai pesta malam ini!” Maka Ratu pun mencicipi makanan dan minuman yang tersedia. “Ehmm, lezaaat sekali.” Setelah itu peri-peri cilik pun mulai menikmati makanan dan minuman yang tersedia.
Sementara itu Flori dan Flora, dua peri cilik yang nakal sedang bermain-main di dekat api unggun. “Flora, aku punya permainan baru,” kata Flori tiba-tiba.
“Permainan apa?” tanya Flora ingin tahu.
“Begini, kita ambil sebatang ranting yang digunakan untuk api unggun. Nah, kalau sebatang ranting saja kan mirip dengan obor? Lalu kita berjalan-jalan dengan obor itu ke tengah hutan.”
“Wah, tentu asyik ya!” sambut Flora. “Kalau begitu ayo cepat kita ambil!” Flora dan Flori masing-masing mengambil sebatang ranting bernyala yang agak pendek. Tetapi celaka! Karena ranting itu pendek, akhirnya tangan Flora dan Flori terbakar!
“Aduh, jariku terbakar!” jerit Flori, lalu ia membuang ranting yang bernyala itu. “Aduh, jariku juga terbakar!” jerit Flora. Lalu Flora pun membuang ranting yang bernyala itu. Namun apa akibatnya?
Rumput-rumput di sekitar tempat itu terbakar! Ya, beberapa hari ini memang tidak pernah turun hujan. Panas terik membuat rumput-rumput di hutan itu menjadi kering.
Karena itulah ketika terkena percikan api dari ranting yang bernyala, rumput-rumput kering itu langsung menyala. Makin lama nyala api makin besar.
Flora dan Flori segera meninggalkan tempat terjadi kebakaran itu lalu bersembunyi!
“Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran!” Peri-peri berteriak sambil berlari menghampiri Ratu Peri Cilik. Mereka tahu, bahwa ratu Peri Cilik pandai menyulap.
“Ratu, Ratu, di sana terjadi kebakaran!” seru peri-peri itu dengan panik. “Oh ya?” sahut Ratu, agak terkejut.
“Ya, Ratu. Dapatkah Ratu menolong memadamkannya?”
“Ya, tunggu sebentar,” jawab Ratu Peri Cilik. Ratu Peri Cilik bangkit dari kursi tahtanya. Kemudian Ratu menyanyikan sebuah lagu tentang hujan yang turun ke bumi. Mungkinkah lagu itu dapat menciptakan hujan?
Ilustrasi: deviantart
Sementara peri-peri  asyik mendengar sang Ratu menyanyi, turun titik-titik hujan. Rik, tik, tik.
“Hujan! Hujan! Hidup Ratu!” sorak para peri dengan gembira. Dalam sekejap saja hujan yang turun itu memadamkan rumput-rumput kering yang terbakar.
Flora dan Flori keluar dari  balik pohon. Sambil bergandengan tangan mereka menghadap Ratu Peri Cilik. “Ratu, maafkan kami,” kata Flora dan Flori.
“Kami yang bersalah, telah menyebabkan kebakaran itu.” Lalu Flora menceritakan bagaimana sampai terjadi kebakaran di tengah hutan itu.
Alangkah marahnya Ratu Peri Cilik kepada Flora dan Flori. Karena bermain api itu sangat berbahaya.
Sebagai hukuman atas kenakalan mereka, Ratu memerintahkan kedua peri cilik yang nakal itu menjemur semua pakaian peri yang baru selesai dicuci.
Flora dan Flori yang menyadari kesalahan mereka, melakukan tugas itu dengan hati lega.
Untung saja cuma diperintahkan menjemur pakaian. Coba kalau seluruh hutan terbakar? Ah, celakalah semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar